Senin, 23 Desember 2019

Temukan Terampilmu

Dalam tugas pertama di kelas bunda cekatan pekan lalu, saya telah membuat kuadran aktivitas sebagai berikut.

1. Bisa dan tidak suka
- memasak
- membersihkan rumah
- setrika
- mencuci piring dan baju
- membaca
- berjualan

2. Bisa dan suka
- berenang
- jalan-jalan bersama keluarga
- membuat handycraft
- menulis
- berpacaran dengan suami

3. Tidak bisa dan suka
- menyupir mobil
- memanah
- bela diri
- bahasa jepang
- travelling keluar negeri

4. Tidak bisa dan tidak suka
- programming


Di tugas kedua ini saya diminta menentukan ketrampilan apa saja yang saya butuhkan untuk mendukung agar aktivitas yang membuat saya bahagia dapat berjalan dengan lancar. Oleh karenanya saya akan mencoba memulai dari 5 aktivitas yang saya bisa dan suka yakni:

- berenang
- jalan-jalan bersama keluarga
- membuat handycraft
- menulis
- berpacaran dengan suami

Saat ini saya sedang LDR dengan suami, padahal berpacaran dengan suami merupakan salah satu aktivitas yang membuat saya bahagia. Karenanya saya ingin segera menyusul suami yang sedang study s3 di Jepang. Untuk saat ini, saya tinggal menunggu visa yang mengijinkan saya menetap saat suami study di Jepang yakni selama 3 tahun. Oleh karenanya belajar bahasa Jepang menjadi salah satu aktivitas penting dan mendesak bagi saya.

Saya juga suka jalan-jalan, terlebih jika saya sudah stay di Jepang nanti. Maka ketrampilan yang harus saya miliki selain bahasa Jepang, saya harus pandai mencari rute agar tidak tersesat dan memastikan perjalanan yang aman untuk saya dan anak-anak yang berusia 7 tahun dan 2 tahun.

Di Jepang, mayoritas masyarakatnya bukanlah pemeluk Islam. Jadi kami tidak bisa sembarangan membeli makanan di luar. Oleh karena itu saya memerlukan ketrampilan memasak. Namun memasak merupakan aktivitas yang saya bisa namun tidak suka. Maka sesuai saran bu Septi, saya akan tetap melakukannya namun dengan durasi yang dibatasi.

Untuk aktivitas berenang, nantinya saya akan mencari info tempat berenang di sekitar tempat tinggal kami. Berhubung tidak hanya saya, tapi anak pertama saya juga suka berenang, maka saya akan memasukkannya dalam kuadran penting namun tidak mendesak.

Sedangkan aktivitas membuat handycraft, lagi-lagi anak sulung saya juga hobi melakukannya. Maka saya akan mencari toko di sekitar tempat tinggal kami yang menyediakan alat-alat kerajinan, dan jika memungkinkan kami akan mencari info kursus kerajinan yang kabarnya juga banyak di Jepang.

Yang terakhir, yakni aktivitas menulis, tentunya saya wajib membaca. Namun sayangnya saya tidak suka melakukannya. Lagi-lagi saya akan mencoba saran bu Septi, yakni tetap melakukannya walaupun dalam durasi yang terbatas. Hal ini menjadi penting karena saya ingin sekali menelurkan karya yang bermanfaat berupa tulisan. Maka ketrampilan yang mendukung minat saya ini menjadi penting walaupun tidak mendesak. Selain ketrampilan membaca ada banyak ilmu kepenulisan yang perlu saya pelajari. Oleh karenanya saya mengikuti komunitas One Day One Post (ODOP) dan mulai bergabung di fb grup kelas menulis online (KMO).

Sebagai tambahan, kedua anak saya akan ikut menyusul abinya ke Jepang. Sebenarnya kami belum memutuskan sekolah untuk anak sulung kami. Namun kami sempat mempertimbangkan untuk memulai homeschooling untuk Hafidza yang saat ini berusia 7 tahun. Alasannya kami khawatir dia kaget jika masuk di sekolah Jepang karena perbedaan bahasa dan budaya. Selain itu kami memiliki banyak hal yang ingin kami tanamkan kepada anak-anak sedari dini, terutama masalah akidah, yang kami ragu akan mereka dapatkan di sekolah Jepang. Oleh karena itu ilmu homeschooling menjadi kebutuhan yang penting dan mendesak bagi saya.

Saya akan mencoba memasukkan ketrampilan-ketrampilan tersebut dalam kuadran:
1. Penting dan tidak mendesak
- Membaca
- Ilmu kepenulisan
- Renang
- Membuat handycraft

2. Penting dan mendesak
- Bahasa Jepang
- Memasak
- Mencari rute di Jepang/memahami peta wilayah agar tidak tersesat selama bepergian di sana
- Safety trip untuk anak-anak
- Homeschooling

3. Tidak penting dan mendesak
- membersihkan rumah
- setrika

4. Tidak penting dan tidak mendesak
- berjualan
- programming

Saya memasukkan ketrampilan beberes rumah menjadi ketrampilan yang tidak penting namun mendesak karena sebenarnya saya tidak menyukai kegiatan tersebut namun mendesak untuk dilakukan agar rumah menjadi nyaman. Sedangkan berjualan saya masukkan dalam ketrampilan yang tidak penting dan tidak mendesak untuk saat ini karena saya masih ingin fokus terhadap kebutuhan suami dan anak-anak saya sebagai kewajiban utama saya. Semoga dengan berfokus terhadap ketrampilan yang fokus dan mendesak, maka saya bisa senantiasa bahagia dalam membersamai keluarga.

#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#materi2
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Minggu, 15 Desember 2019

Wanita Berhak Bahagia

Saya ikut sedih ketika membaca berita tentang wanita atau ibu yang menyakiti atau bahkan membunuh buah hatinya, dan kemudian bunuh diri. Seputus asa itukah mereka sehingga tega membunuh darah dagingnya sendiri, amanah Allah yang dititipkan dalam rahim mereka. Jika ada yang berkomentar, mereka kurang iman, saya kira tidak sepenuhnya itu benar. Ada aspek kesehatan mental yang banyak orang telah menjelaskan, terutama bagi ibu pasca melahirkan, dia rawan terkena post partum syndrome. Orang di sekitar ibu memegang peranan penting, terutama suami, terhadap kesehatan mental ibu ini. Ibu yang nekat mengakhiri hidupnya dan sang buah hati, di beberapa kasus dikarenakan suami yang meninggalkannya. Di lain kisah ada juga yang stress karena mertua yang selalu berkomentar si ibu tidak becus mengurus anak karena anaknya kurus, akhirnya sang ibu menggelonggong anak dengan air agar anak terlihat gemuk, malangnya justru tindakannya itu merenggut nyawa sang anak.

Sedih, sungguh sedih, dan saya tidak berharap hal ini terjadi pada ibu-ibu yang lainnya. Ibu berhak bahagia, seberat apapun cobaan yang menerpanya, ibu harus bahagia. Dan di tugas pertama kelas Bunda Cekatan ini, bu Septi mengangkat tema tersebut. Kami diminta melist semua aktivitas kami sebagai wanita, ibu, dan istri. Lantas membaginya menjadi empat kuadran, yakni:
1. Bisa dan tidak suka
2. Bisa dan suka
3. Tidak bisa dan suka
4. Tidak bisa dan tidak suka


Berdasar kuadran tersebut saya akan memasukkan aktivitas saya, sebagai berikut :
1. Bisa dan tidak suka
- memasak
- membersihkan rumah
- setrika
- mencuci piring dan baju
- membaca
- berjualan

2. Bisa dan suka
- berenang
- jalan-jalan bersama keluarga
- membuat handycraft
- menulis
- berpacaran dengan suami

3. Tidak bisa dan suka
- menyupir mobil
- memanah
- bela diri
- bahasa jepang
- travelling keluar negeri

4. Tidak bisa dan tidak suka
- programming


Saat sharing materi pertama ini, bu Septi menceritakan bahwa hal yang beliau bisa dan suka adalah main bersama anak-anak. Maka bu Septi menjadikan kegiatan ini sebagai patokan, jangan sampai kegiatan lain mengganggu kegiatan mainnya bersama anak-anak. Maka mulailah beliau menetapkan range waktu seven to seven, dimana kegiatan yang harus beliau lakukan namun tidak disuka harus selesai sebelum pukul tujuh pagi atau setelah pukul tujuh malam. Dengan menjalankan kegiatan yang beliau suka maka beliau selalu bahagia, dan ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaan kepada anak dan suaminya. Ada sebuah kalimat mutiara, anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna, namun mereka membutuhkan ibu yang bahagia. Saya sangat sependapat dengan kalimat mutiara tersebut.

Saya berharap setiap ibu menyadari hal ini, bahwa dia berhak bahagia. Dengan menemukan apa yang membuatnya bahagia kemudian menjadikannya sebagai aktivitas sehari-hari. Terima kasih kepada bu Septi, atas sharingnya. Ilmu menjadi wanita, ibu, dan istri memang tidak diajarkan di sekolah, namun sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan. Institut Ibu Professional yang beliau dirikan ini benar-benar telah menolong para wanita, ibu, dan istri untuk menemukan jati dirinya dan menjalankan perannya dengan sebaik mungkin. Bismillah, semoga saya mampu menggali ilmu di komunitas ini dan istiqomah menerapkannya dalam kehidupan saya. Dan tentunya, jangan lupa bahagia :).

#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Selasa, 12 November 2019

Kisah Si Mpus (Part 1)

Hari ini langit cerah, pagi-pagi perutku sudah kenyang setelah sarapan ikan. Kupatut diriku di depan kaca, sepertinya ada yang kurang, iyalah aku belum mandi. Karena aku nggak suka air, cukup dengan kujilati sekujur tubuh, aku sudah kembali tampan dan menawan. Kupandangi lagi wajahku di depan kaca, perfect, sekarang aku sudah siap ngapeli Mimi, ehehe.

Segera aku meluncur melewati pintu rumah, menyelip di antara pagar, lalu kususuri jalanan lengang di depan rumah majikanku. Satu rumah kulewati, dua, tiga, nah inilah rumah majikannya Mimi. Seperti biasa pagarnya selalu tertutup. Tapi bukan Mpus namanya kalau tidak bisa memanjat pagar. Hap hap, aku sudah berhasil naik ke puncak pagar. Hap, hanya sekali loncat aku sudah turun di halaman rumah majikannya Mimi.

Meoow, kupanggil Mimi, tapi tidak ada balasan. Jangan-jangan dia masih tidur, dasar kucing malas. Tidak ada pilihan lain, aku harus masuk mencari kucing idamanku itu. Pintu rumah tertutup, tapi jendela terbuka, yeay aku masuk saja lewat jendela. Hap, hap, aku berhasil masuk rumah melewati jendela. Biasanya Mimi tidur di halaman belakang, dekat mesin cuci. Aku hapal sekali rumah ini karena sudah beberapa kali aku ngapeli Mimi. Beruntung majikannya Mimi juga penyuka kucing, jadinya aku tak pernah diusir, kadang-kadang aku malah diberi makan bareng Mimi, asyik kan, sudah ngapeli gebetan dapet makan gratis pula XD.

Meoow, sambil menyusuri ruang tengah kucoba memanggil Mimi lagi. Nihil, idih nih cewek mau tidur sampe jam berapa sih. Fix, aku harus segera nyamperin dia biar nggak molor terus. Nggak lucu kan kalau nanti kami menikah kerjaan dia molor terus seharian. Setidaknya dia harus belajar bagaimana bangun pagi, biar nanti bisa ngurus suami, apalagi kalau nanti kami sudah punya anak. Kasihan anak-anak kalau ibunya males-malesan nggak mau nyarikan makan.

Kulihat majikan Mimi sedang sarapan, dia menoleh ketika menyadari kehadiranku.
"Mpus, nyari Mimi yaa... Tuuh Mimi tidur lagi, padahal habis sarapan. Samperin gih," ujarnya ramah sembari menyendokkan nasi ke mulutnya. Meoow, kujawab sekenanya, mau kujawab panjang lebar dia juga nggak ngerti. Setelah melewati dapur, kutemukan Mimi tidur pulas di kasur lembutnya. Kujawil tangannya biar bangun, dia menguap, berganti posisi, lalu mendengkur lagi. Lah, malah tidur lagi..

Aku tak kehabisan ide, kugerak gerakkan bahunya sampai dia mulai menggeliat.
"Ngapain sih, nggak liat apa aku lagi enak-enaknya tidur nih, ganggu aja," ujarnya masih dengan mata setengah merem.
"Ini Mpus, Mi, bangun donk udah siang nih," jawabku.
"What? Mpus ngapaiin pagi-pagi kesini?"
Ekspresi Mimi lucu kalau lagi kaget plus salah tingkah.
"Gak papa kangen aja, lha kita gak punya handphone, makanya aku gak bisa telepon kamu, langsung kusamperin aja deh," jawabku sambil cengar cengir.
"Idih, aku kan malu muka masih ileran gini udah diapelin. Tunggu depan sana gih, aku mau mandi dulu,"

Daripada kena semprot akupun menurut, kulenggangkan badan kembali ke halaman depan dan menunggu disana. Kulihat majikannya Mimi sudah siap berangkat kerja, dikeluarkannya sepeda motor dari halaman. Saat akan mengunci pagar, dia masih menyapaku.
"Mpus, baik-baik ya sama Mimi. Aku berangkat kerja dulu. Daa daaa,"
Meooow, jawabku melepas kepergiannya.

Sambil duduk di dekat pintu aku menunggu Mimi keluar. Lumayan lama aku menunggu, emang cewek sama saja ya, kalau dandan lamanya bukan main.
"Hai Mpus, sorry lama, tumben pagi-pagi sudah kesini," sapanya setelah melompati jendela.
"Eeng, ada yang mau kuomongin ke kamu," jawabku agak grogi.
"Ngomong apasih?langsung aja nggak usah pakai basa-basi," tanyanya nggak sabar.
"Eem, gini Mi, aku pengen nikah sama kamu, kamu mau nggak?" tanyaku to the point, salah sendiri dia nggak sabaran.
"What? Are you serious?" tanya Mimi setengah tak percaya.
"Of course, im very serious," sejak kapan ya kucing bisa bahasa Inggris? Wkwk
"Well, give me some times to think about it," ujarnya masih dengan bahasa Inggris, mungkin karena saking terkejutnya.

"Baiklah, besok aku kesini lagi ya.. Tak perlu terburu-buru, kamu boleh berkonsultasi dengan majikanmu dulu. Kalau begitu aku pulang dulu, daah Mimi," jawabku selow, aku tak mau terlalu menyudutkannya. Masalah seperti ini tentu perlu dipikirkan dengan matang. Aku mau saat menikah nanti, dia sudah benar-benar siap menjalankan perannya sebagai istri yang baik bagiku.

To be continued

*masih belajar nulis, jangan baper yah..ehehe
*buat yang sedang berproses menuju halal, semoga dilancarkan😊
*pesen undangan dan maharnya bisa ke www.byrequestcraft.com

Selasa, 01 Mei 2018

Perihal Corong

Perihal Corong
Zaman Old, penjajah punya antek, tugasnya bilang “semua baik-baik saja”. Zaman now, menjadi tugas corong untuk menyampaikan pada masyarakat bahwa semua baik-baik saja, meskipun nyatanya tidak. Ya, kita sedang tidak baik-baik saja, bahkan kita sejatinya sedang dijajah. Kok bisa? Apa buktinya? Sudah banyak link bertebaran, media cetak yang meliput tentang buruh-buruh ilegal yang masuk ke Indonesia sejak awal Jokowi memerintah Indonesia hingga sekarang. Buruh-buruh ilegal itu banyak yang tidak memiliki skill khusus dan bahkan banyak yang tidak bisa berbahasa Indonesia, lantas bagaimana mereka bisa memahami peraturan di negara ini? Dan parahnya, presiden mengeluarkan Pepres yang memerintahkan agar pekerja asing ini dipermudah untuk masuk ke Indonesia. Di saat warga Indonesia kesulitan mengurus administrasi, membuat KTP saja bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, para tenaga asing ilegal ini dipermudah dan hanya memerlukan waktu dua hari untuk mengurus administrasi. Belum lagi gaji yang mereka terima sangat tidak masuk akal, untuk buruh kasar saja mereka digaji di atas sepuluh juta. Di saat rakyat Indonesia masih banyak yang pengangguran, ini malah mendatangkan pekerja asing dengan gaji tak masuk akal. Ah, bahkan anak kecil pun tau bahwa kita sedang dijajah, apalagi saat ini adalah zaman internet dimana informasi tersebar sepersekian detik. Mungkin bisa saja Jokowi dan orang-orang di belakangnya membayar ribuan cyber army dan atau sejenisnya untuk menghapus konten-konten yang membuka boroknya pemerintah. Tapi tetap saja, kecepatan mereka melaksanakan tugasnya tidak akan bisa menandingi kecepatan internet menyebarkan sebuah berita.
Sejak awal kemunculannya, senjata utama Jokowi dan antek-anteknya adalah pencitraan. Masih segar di kepala saya bagaimana dia dengan tiba-tiba muncul dengan Esemka-nya, lantas pemberitaan tentangnya di blow up sedemikian rupa dengan permak disana sini bahwa dia adalah pemimpin yang merakyat dan sangat kompeten. Dan sejak awal pun saya sudah bisa menangkap kejanggalan pemberitaan yang berlebih tentang Jokowi ini. Memang banyak yang tertipu, terkesan, jatuh cinta, hingga kemudian menjadi fans beratnya, lantas rela membelanya mati-matian jika ada satu dua orang yang mencoba membuka kedok busuknya. Orang-orang seperti inilah yang kemudian disebut dengan corong. Ada corong yang berbayar, ini bisa diketahui sejak masa pencalonan Jokowi sebagai presiden, sebuah artikel membongkar kedok puluhan corong yang tugasnya membuat puluhan akun palsu kemudian menyebarkan status-status yang memuja-muja Jokowi. Ini yang ketahuan, yang tak ketahuan? Bisa ratusan atau bahkan ribuan, dan kalikan saja dengan puluhan akun palsu milik mereka yang mereka gunakan untuk membuat status-status pencitraan Jokowi. Tugas mereka juga meng-counter status-status yang melawan Jokowi. Lantas bagaimana dengan corong tak berbayar? Lebih banyak lagi, isinya tentu saja orang-orang yang terlanjur termakan dengan segala pencitraan yang membombardir mereka kapanpun dimanapun selama mereka terhubung dengan internet. Totalitas mereka dalam membela pujaannya tak kalah dengan corong-corong berbayar, hal ini tentu saja karena mata dan hati mereka telah dibutakan oleh kekaguman yang berlebihan kepada sosok idolanya.
Kerja corong-corong ini kemudian menjadi ujung tombak keberhasilan Jokowi menjadi presiden Indonesia periode 2014-2019. Dan dimulailah era pemerintahan Jokowi, tentunya dengan berbagai janji saat kampanye agar dia terpilih. Rakyat pun menjadikan janji-janji ini sebagai parameter keberhasilan pemerintah, dan bagaimanakah kinerja pemerintahan Jokowi? Kenyataannya janji-janji yang dibuat olehnya hanya tinggal janji. Dimulai dari janji swasembada beras, itu tidak menjadi kenyataan hingga sekarang. Malahan pemerintah berkali-kali mengimpor jutaan ton beras di saat rakyat panen raya, bukankah hal itu malah menjadikan beras lokal jatuh harganya? Dan tentu saja berlawanan dengan janji Jokowi untuk swasembada beras. Lalu janji untuk stop impor, nyatanya pemerintahan Jokowi mengimpor berbagai kebutuhan pangan yang sejatinya bisa dipenuhi oleh produsen dalam negeri, mulai dari beras, garam, bahkan cangkul pun diimpor. Kemudian janji tidak akan menaikkan harga BBM, kenyataannya pemerintah sudah lebih dari empat kali menaikkan harga BBM tanpa memberikan info sebelumnya kepada rakyat. Dan sebagaimana kita tahu bahwa dengan naiknya harga BBM akan berimbas kepada naiknya berbagai bahan pokok lainnya, hal ini melatar belakangi perlawanan yang dilakukan ibu-ibu dengan menggunakan tagar #2019GantiPresiden. Janji untuk tidak berhutang pun diingkari dengan tumpukan hutang triliunan rupiah. Dan janji membuka 10 juta lapangan kerja baru ternyata tidak ditepati, pasalnya Jokowi menerapkan model investasi dari China berupa pinjaman uang untuk membangun infrastruktur, namun bahan harus dari China, pekerja pun harus dari China, jadi rakyat Indonesia dapat apa? Belum lagi kenyataan beberapa infrastruktur yang dibangun itu ambruk, tak layakkah jika kami meragukan kualitas infrastruktur yang dibangun era kepemimpinan Jokowi?
Ijinkan saya mengutip sebuah potongan hadits riwayat imam Ahmad. “Sesungguhnya pada hari kiamat setiap pengkhianat akan diberikan padanya bendera pada pantatnya dan akan dibalas sesuai pengkhianatannya, dan tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari pengkhianatan seorang pemimpin umat”. Corong selalu menyangkal dan mengatakan bahwa kebohongan yang dilakukan oleh pujaannya adalah sesuatu yang manusiawi dan tidak masalah. Bagi rakyat yang masih memiliki akal sehat pasti sepakat mengatakan bahwa itu adalah masalah besar. Jika pemimpin yang menguasai hajat hidup masyarakat Indonesia tidak dapat dipegang kata-katanya, lantas apakah dia layak memimpin di periode selanjutnya? Rakyat merindukan sosok pemimpin yang amanah, menepati janjinya, dan pro terhadap rakyatnya, bukannya malah memfasilitasi bangsa asing menjajah rakyatnya. Hal inilah salah satu yang melatar belakangi munculnya tagar #2019GantiPresiden, dan menjadi gerakan massif dari masyarakat yang sadar akan kenyataan bahwa presidennya saat ini sudah tak layak melanjutkan kepemimpinannya di bumi Indonesia.
Satu hal yang menambah keyakinan bahwa Jokowi adalah boneka asing yang ingin menjajah Indonesia, yakni proyek reklamasi yang pelaksanaanya sejatinya ditentang oleh ribuan nelayan dan tidak mendapatkan izin administrasi dari pejabat terkait. Namun pemerintah pusat seakan-akan ngoyo mempertahankan proyek ini apapun kondisinya dan tetap melakukan pembangunan walaupun tidak mengantongi izin. Lantas bangunan-bangunan megah yang telah berdiri itu dijual kepada rakyat asing dan iklannya betebaran di Negara China, bukannya itu menandakan bahwa Negara ini sedang dijual? Salah satu yang berangkulan dengan Jokowi dalam proyek reklamasi ini adalah mantan gubernur Jakarta, Ahok. Lantas Ahok pun tersandung kasus penistaan ayat suci Al Qur’an saat sedang kampanye di Kepulauan Seribu. Masih segar di ingatan ketika rakyat bangkit dalam aksi 212 yang berlanjut pada aksi-aksi selanjutnya dalam rangka membela Al Qur’an yang dinistakan oleh Ahok, gubernur Jakarta pada masa itu. Jutaan massa umat Islam bergabung membela agamanya dan menuntut agar Ahok dipenjarakan. Pemerintah yang terkesan ogah-ogahan dalam menangani kasus ini menjadikan umat Islam semakin militan dan bersatu padu menuntut keadilan harus ditegakkan. Dan setelah proses yang sangat panjang dan upaya jutaan rakyat Indonesia yang bersatu padu, akhirnya Ahok dipenjara. Hal itu membuka mata rezim pemerintahan Jokowi bahwa rakyat yang dipimpin oleh alim ulama memiliki kekuatan tak terbendung yang mampu menumbangkannya dalam sekejap. Dan dimulailah babak baru kesemena-menaan rezim terhadap tokoh-tokoh umat Islam.
Dimulai dengan kriminalisasi Habib Rizieq Shihab, ulama yang menjadi tokoh inti penggerakan massa 212, yang merembet pada kasus pembacokan ahli IT yang berusaha membuktikan bahwa Habib Rizieq tidak bersalah. Pemerintah seolah-olah ketakutan dan mulai gelap mata dengan menangkap tokoh Islam lain yang vokal walaupun sebenarnya yang disampaikan dalam ceramah-ceramahnya juga tidak ada tendensi yang membahayakan. Misalnya ustadz Alfian Tanjung yang berusaha membuka mata masyarakat akan bahaya PKI dan mewaspadainya, beliau ditangkap dan masih ditahan hingga sekarang. Lantas ustadz Zulkifli yang isi ceramahnya adalah tentang hari kiamat yang pasti kedatangannya, beliau pun menjadi korban rezim dan saat ini mendekam dalam penjara. Belum lagi kasus penyiraman air keras yang terjadi pada penjabat senior KPK Novel Baswedan, yang kasusnya tak terungkap hingga sekarang. Dan yang lebih mengerikan adalah puluhan kasus penganiayaan para ulama di berbagai daerah di Indonesia, yang beberapa di antaranya berujung kematian, yang kemudian pelakunya divonis sebagai orang gila sehingga bebas dari segala tuduhan. Astaghfirullah, dari penjabaran ini saja langsung tergambar kekejaman orde lama yang juga berusaha menyingkirkan lawan politik yang dianggap membahayakan kedudukannya dengan cara keji. Ditambah ada indikasi kebangkitan PKI yang mulai menggeliat dengan berani di era Jokowi ini. Lengkap sudah gambaran rezim yang diperankan oleh presiden kita saat ini. Lantas apakah salah jika rakyat bergerak melawan dan bertekad bersatu dengan mengangkat isu bertagar #2019GantiPresiden.
Di titik ini para corong masih juga menutup mata akan segala kebobrokan junjungannya dan terus membela dengan berbagai argument yang dipaksakan. Walaupun sudah tampak dengan sangat jelas segala borok penguasa dan tak dapat dibantah lagi, mereka masih saja mendukung secara membabi buta. Mereka tidak berusaha mencari yang terbaik untuk negeri ini, namun hanya ingin memberikan jabatan untuk idolanya. Dan inilah masalah utamanya, rata-rata para corong ini tidak mau berpikir kritis, tidak betah diajak berdiskusi, pikiran mereka tak terbuka terhadap kebenaran. Menjadi tugas seluruh elemen masyarakat yang telah sadar untuk menyadarkan mereka dan mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Semoga impian rakyat Indonesia untuk #2019GantiPresiden dapat terwujud dan membawa angin segar demi masa depan Indonesia dengan pemimpin baru yang jujur, amanah, kompeten, dan adil.
Oleh:
Leska Tariyani
Seorang Ibu Rumah Tangga yang rindu akan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.
FB: Leska Tariyani
IG: smart_scrapbook

Kamis, 26 April 2018

Perjalanan Hidupku (part 8)



Yanti teman sebangkuku, dia adalah anak yang menyenangkan, sejak pertama kali berkenalan aku terkesan padanya. Untuk anak seumuran kami, dia tergolong bijak dan sangat dewasa. Dia mampu berbaur ke semua kawan-kawan kami sekelas, pun ketika mulai ada geng-geng di kelas kami. Ya, pada akhirnya kelas kami yang sangat ramai akan terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok geng. Ada geng anak-anak ramai yang diisi dengan anak-anak gaul dan suka ngrumpi, ada juga geng anak-anak pintar, yang cenderung pendiam tapi nyaman dengan lingkarannya. Bagaimana denganku? Aku adalah anak pendiam yang tidak termasuk dalam geng manapun. Aku lebih nyaman berdua dengan Yanti, dia suka bercerita, aku suka mendengarkan, maka kloplah kami. Meskipun Yanti tidak melulu bersamaku, dia yang pandai berbaur juga sering bercengkerama dengan teman-teman lainnya. Entah kenapa sejak dulu masalah utamaku adalah susah mencari tema ngobrol dengan orang lain. Jika aku merasa tidak ada tema yang bisa dibicarakan, maka aku memilih diam, dan hal itu membuat orang-orang kurang nyaman bersamaku. Tapi berbeda dengan Yanti, ada saja tema yang kami bicarakan, bahkan drama Taiwan Meteor Garden yang sedang hits di masaku bisa menjadi bahan obrolan seru, kamipun tertawa-tawa berdua.

Salah satu kelebihan Yanti yang sangat patut untuk diteladani adalah kerajinannya dalam belajar. Ya, kawan sebangkuku ini sangat rajin dan pantang menyerah untuk selalu berprestasi. Karena usahanyalah dia bisa meraih rangking satu hampir tiap semester, sedangkan aku mengekor di rangking tiga atau malah lebih buruk dari itu. Prestasi terbaikku selama SMP adalah rangking dua di kelas, itupun hanya sekali. Pernah aku mendapat rangking terburuk sepanjang sejarah hidupku, yakni rangking tujuh, akupun menangis sejadi-jadinya di kelas ketika teman-teman sudah pulang, puas menangis baru aku pulang. Lebay ya? Haha.. Begitulah anak muda yang masih belia, masih memiliki idealisme dalam hidupnya. Aku suka dengan diriku yang berambisi untuk berprestasi, setidaknya itu modal untuk sukses versiku. Orang tuakulah yang menjadi bahan bakar semangatku, yang kedua adalah Yanti yang selalu mengajakku untuk berlomba-lomba agar lebih baik. Pernah suatu pagi aku pergi ke rumahnya agar bisa berangkat bersama, kebetulan itu adalah saat ujian sehingga masuknya agak siang. Saat aku tiba di sana ternyata Yanti masih belajar, aku yang sudah merasa cukup dengan sekali mengulang materi yang diujikan jadi malu dengannya yang tak berhenti belajar hingga seluruh materi menempel di kepalanya. Pernah juga ketika diberi tugas menghapal oleh guru agama, dua buah ayat yang satunya pendek, dan yang satunya panjang. Aku yang merasa puas dengan menghapal ayat yang pendek, oleh Yanti disemangat dan diajak untuk terus berusaha menghapal ayat yang panjang dengan terus diulang-ulang, dan akhirnya kami pun hapal. Aku terpesona saat itu, ternyata jika kita mau sedikit memaksa diri untuk berusaha, sesungguhnya kita mampu meraih sesuatu yang sebelumnya kita anggap mustahil dapat kita lakukan.

Satu lagi hal yang mengagumkan dari sahabatku ini adalah kemampuannya bernyanyi. Suaranya indah bagai seorang diva, dia berbakat ditambah lagi orang tuanya memfasilitasinya les vokal sehingga suara emasnya makin terasah. Ketika ada acara di sekolah, Yanti sering didapuk untuk mengisi salah satu sesinya. Suaranya yang begitu merdu bergema di seantero sekolah membuat siapapun akan terlena dengan keindahan suaranya. Aku sering diajaknya bernyanyi bersama, awalnya tentu saja aku menolak karena aku sadar akan kemampuanku dalam olah vokal. Namun bukan Yanti namanya kalo menyerah begitu saja, dia akan merayuku lantas mengajariku untuk membuat suara satu dan dia yang membuat back sound dengan suara tiga yang merdu, dengan cara itu suara cemprengku tertutupi dengan suara merdunya, hihi. Salah satu lagu favorit kami adalah lagu Sahabat Sejati oleh Sheila On Seven :

Sahabat Sejatiku
Hilangkah dari ingatanmu
Di waktu kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi
Aku datang menghampirimu
Kuperlihatkan semua hartaku
Kita slalu berpendapat
Kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang silam
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kau pun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi
Tu..wa..ga..pat
Reff:
Pegang pundakku jangn pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah
Lelah dan tak bersinar
Pegang sayapku jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai terbang
Terbang meninggalkanmu
Wo o o..woo oo oo oo

Pada suatu hari saat pelajaran seni rupa, “Cha, gambarmu bagus sekali, aku sering memperhatikan saat kau membuat gambar ketika pelajaran seni rupa. Mungkin kau punya bakat melukis, kenapa tak kau kembangkan bakatmu?” kata Yanti padaku. “Ohya? Mungkin bakat ini menurun dari bapakku, beliau bisa membuat lukisan yang indah sekali. Tapi untuk mengembangkannya..” aku terdiam sejenak. “Kenapa?” tanya Yanti penasaran. “Keluargaku sangat sederhana, bisa sekolah di sekolah favorit ini saja aku sudah sangat bersyukur. Aku takut jika aku meminta macam-macam seperti les menggambar justru akan membebani pikiran orang tuaku,” ujarku dengan nada sedih. “Hmm, aku paham. Tapi untuk mengembangkan bakat kita tidak harus dengan les kok, bisa juga dengan otodidak,” ujar Yanti optimis. Akupun tersenyum, walaupun dalam hati bertanya-tanya, jika bukan dengan les, lantas bagaimana? Pada akhirnya aku hanya bisa menggambar untuk mengerjakan tugas, menikmati lukisan-lukisan yang dipajang saat ada pameran, dan sesekali membuat lukisan sendiri jika sedang memiliki waktu luang. Butuh fokus untuk menyemai sebuah bakat agar mekar berseri, dan aku kekurangan sarana pendukung serta fasilitas untuk mengembangkan bakatku. Tugas sekolah, belajar untuk ujian, dan serangkaian kegiatan organisasi telah menguras perhatianku, dan di sisa waktuku kugunakan untuk refreshing atau istirahat. Keinginan untuk bisa mengembangkan bakat pun lama-lama menguap begitu saja.


#KelasFiksi
#ODOPBatch5

Sabtu, 21 April 2018

Perjalanan Hidupku (part 7)


Dini hari itu aku terbangun sebelum adzan subuh berkumandang, segera kuambil handuk dan bergegas mandi meskipun hawanya masih sangat dingin. Sambil menggigil kubersiap mengenakan seragam, begitu terdengar adzan aku segera menunaikan shalat. Agar tak lemas nanti di sekolah kusempatkan sarapan beberapa suap nasi lauk telur. Begitu semua siap, aku segera berpamitan kepada nenek dan berangkat dengan jalan kaki menuju jalan raya sekitar 300 meter dari rumah nenekku. Saat itu di luar masih gelap dan jalan sangat sepi, aku berlari-lari kecil ketika melewati jembatan tanpa penerangan. Jalanku sudah mirip orang lomba jalan cepat, bagaimanapun juga ada rasa takut menyesap dalam hati. Hingga akhirnya sampai juga aku di pinggir jalan raya, di depan gang ada sebuah masjid besar dengan penerangan yang cukup sehingga aku memilih berdiri di seberangnya untuk mengusir rasa was-was. Tak perlu menunggu lama hingga sebuah angkutan umum lewat di depanku, sebenarnya angkutan umum itu sudah banyak terisi penumpang yang akan berangkat bekerja di pabrik Gudang Garam, namun pak kernet masih saja memaksakan penumpang untuk berhimpitan agar bisa mengangkut lebih banyak. Aku pasrah saja dihimpit oleh penumpang lain yang rata-rata adalah ibu-ibu. Walaupun harus berhimpitan, aku bersyukur laju kendaraan umum itu cukup cepat sehingga aku tak perlu khawatir terlambat.

Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam, aku segera turun setelah membayar tarif yang terbilang murah untuk anak sekolah sepertiku. Kulihat halaman sekolahku lengang, apa aku kepagian? Ah aku hanya perlu masuk untuk memastikan, segera saja kulangkahkan kaki melewati halaman sekolah menuju kelas 1 E yang letaknya di belakang. Ternyata sudah banyak temanku yang datang, dan mereka disuruh berbaris di depan kelas. “Hai, kamu jangan santai-santai, ayo cepat berbaris!” tiba-tiba seorang senior berteriak kepadaku, akupun segera berlari menuju barisan. Wajah teman-teman sekelasku yang belum semua kukenal, terlihat ketakutan, begitupun aku mulai merasa tak nyaman. Aku melihat sekeliling, para siswa baru berbaris di depan kelasnya masing-masing, belum banyak yang datang karena memang ini belum menunjukkan pukul enam sebagaimana instruksi yang diberikan senior di hari sebelumnya. Satu per satu kawan-kawanku berdatangan disambut teriakan agar segera berbaris dan menggunakan perlengkapan yang sudah diinstruksikan. Begitu pukul enam, para senior mulai semakin garang, teriakan mereka menggelegar bagaikan singa lapar. Kawan-kawanku yang terlambat diminta membuat barisan baru dan disana mereka diomeli dengan berbagai kata-kata kasar. 

Melihat pemandangan ini jantungku berdetak tak karuan, kepala berdenyut-denyut demi mendengar teriakan yang saling bersautan. Para senior mulai mencari-cari kesalahan, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak ada yang luput dari pandangan mereka.
“Lihat baju yang kau kenakan! Rok di atas lutut begini, mau jadi apa kau, hah?!” semprot seorang senior perempuan kepada salah satu teman sekelasku. Yang diteriaki tentu saja mengkerut takut, ada beberapa yang masih bisa menjawab begitu mendapatkan bentakan di sebelah telinganya, ada juga yang mendadak bisu. Jika mulut tertutup rapat maka akan disusul bentakan selanjutnya, “kamu bisu ya? Kenapa tak menjawab pertanyaanku?!” dan jika yang ditanya masih diam saja, maka runtutan bentakan selanjutnya akan berhamburan menggedor-gedor gendang telinga. Berbagai macam subjek yang mereka jadikan bahan omelan, ada yang karena rambut gondrong, ada karena lupa membuat keplek, ada yang karena sepatu, dasi, dan banyak hal lagi. Dalam hati aku berpikir, untuk apa semua ini? Jika untuk membuat disiplin apa harus seperti ini? Mental apa yang akan terbangun dengan bentakan dan cacian macam ini? Apa tak ada cara lain?

“Hai, kamu melamun ya?!” tiba-tiba sebuah bentakan diarahkan kepadaku, membuyarkan pikiranku. Duh, salah apa aku? “Lihat saya! kamu sedang mikirin apa, hah?!” Tanya senior laki-laki yang sudah berdiri tepat di depanku. “Tidak, tidak ada, Kak,” jawabku tergagap. “Temanmu dibentak-bentak kau diam saja. Kamu nggak ingin membela mereka?” sebuah pertanyaan menggelitik diajukan kepadaku. Haduh, aku harus bagaimana? Apa aku harus jadi pahlawan kesiangan yang menyelamatkan satu per satu temanku? Aish siapa aku? “Ingin, Kak!” duh, aku ngomong apa? Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Dan selanjutnya akupun menuju salah satu kawan yang sedang diomeli habis-habisan oleh seorang senior. Kucoba beradu argumentasi demi menyelamatkan kawanku, dan kulihat ada beberapa kawanku yang bernasib sama. Dan kejadian absurd macam ini berlanjut hingga kami semua dikumpulkan kembali untuk berbaris di depan kelas masing-masing. Aku menghela nafas lega, setelah berbaris kamipun diminta masuk ke kelas, menduduki bangku masing-masing.

Kuedarkan pandangan ke sekeliling kelas yang akan menjadi tempat belajarku selama setahun ke depan. Sebagaimana kelas pada umumnya, ada bangku panjang yang berjajar di sertai dua kursi di belakang setiap bangku. Karena aku termasuk bertubuh tinggi maka aku diletakkan di bangku belakang agar tidak menutupi kawan-kawanku jika kududuk di depan. Seorang kawan perempuan duduk di sampingku, kami berkenalan, namanya Yanti. Kami mengobrol singkat sebelum seorang senior memberikan instruksi di depan kelas, memperkenalkan lingkungan sekolah kami. Aku menyimak dengan antusias, bagaimanapun juga akan kuhabiskan tiga tahun masa hidupku belajar di sekolah ini. Ah, aku tak sabar lagi!

#KelasFiksi
#ODOPBatch5

Selasa, 17 April 2018

Balasan Surat Cintaku



Saat itu dia baru pulang kantor, setelah selesai bersih diri saya iseng bertanya, "sudah baca surat cinta umi di status fb?” aku merujuk pada tulisan yang berjudul 'Being in love with you'. Suami menjawab, “sudah,” lalu saya bilang, “bales donk.”
Suamipun berkata “Tak jawab gini aja ya, terima kasih sayang”
“Gak mauu, awas ya kalo gitu doang jawabnya” tukas saya. “Pokoknya harus bikin surat cinta panjang kayak suratnya umi!” tambah saya sambil menggigit tangannya karena gemas, disambut tawa gelinya dan wajah meringis karena sakit.

Hari demi hari surat cinta tak kunjung berbalas, saya pun menyampaikan kegalauan di grup matrikulasi IIP yang memberikan tugas menulis surat cinta pada suami dan meminta balasannya. Setelah sharing dan melihat berbagai macam tanggapan para suami atas surat cinta istrinya, maka saya menyadari bahwa memang benar wanita dari venus dan pria dari mars. Tentu saja ini hanya perumpamaan, karena pada umumnya suami sangat hemat dalam berkata-kata, pun dalam bahasa tulisan. Hanya seribu satu yang bisa mengungkapkan keinginan dan perasaan dengan rangkaian kata atau tulisan yang panjang. Dan suami saya termasuk dalam seribu laki-laki yang miskin kata-kata.

Baiklah, saya mulai bisa menerima kenyataan hingga saya teringat satu hal.
Sehari setelah saya buat surat cinta untuk suami saya, tiba-tiba dia berkat, “Umi, kapan hari kan abi menawarkan mau ikut abi seminar di Jakarta atau Bandung. Insyaallah kita jadi ke Bandung.” “Waa...yeaay,” ujar saya girang bukan kepalang.
“Abi tau umi suka jalan-jalan, kalau ke Jakarta paling ya gitu-gitu saja, makanya abi pilih ke Bandung,” tambahnya.
Ah so sweet... Suami saya memang tidak pandai berkata-kata, tapi dia selalu sukses menunjukkan cinta dengan perbuatan yang membuat saya kembali jatuh cinta padanya lagi dan lagi... Alhamdulillah :)

#kelasFiksi
#ODOPbatch5