Selasa, 01 Mei 2018

Perihal Corong

Perihal Corong
Zaman Old, penjajah punya antek, tugasnya bilang “semua baik-baik saja”. Zaman now, menjadi tugas corong untuk menyampaikan pada masyarakat bahwa semua baik-baik saja, meskipun nyatanya tidak. Ya, kita sedang tidak baik-baik saja, bahkan kita sejatinya sedang dijajah. Kok bisa? Apa buktinya? Sudah banyak link bertebaran, media cetak yang meliput tentang buruh-buruh ilegal yang masuk ke Indonesia sejak awal Jokowi memerintah Indonesia hingga sekarang. Buruh-buruh ilegal itu banyak yang tidak memiliki skill khusus dan bahkan banyak yang tidak bisa berbahasa Indonesia, lantas bagaimana mereka bisa memahami peraturan di negara ini? Dan parahnya, presiden mengeluarkan Pepres yang memerintahkan agar pekerja asing ini dipermudah untuk masuk ke Indonesia. Di saat warga Indonesia kesulitan mengurus administrasi, membuat KTP saja bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, para tenaga asing ilegal ini dipermudah dan hanya memerlukan waktu dua hari untuk mengurus administrasi. Belum lagi gaji yang mereka terima sangat tidak masuk akal, untuk buruh kasar saja mereka digaji di atas sepuluh juta. Di saat rakyat Indonesia masih banyak yang pengangguran, ini malah mendatangkan pekerja asing dengan gaji tak masuk akal. Ah, bahkan anak kecil pun tau bahwa kita sedang dijajah, apalagi saat ini adalah zaman internet dimana informasi tersebar sepersekian detik. Mungkin bisa saja Jokowi dan orang-orang di belakangnya membayar ribuan cyber army dan atau sejenisnya untuk menghapus konten-konten yang membuka boroknya pemerintah. Tapi tetap saja, kecepatan mereka melaksanakan tugasnya tidak akan bisa menandingi kecepatan internet menyebarkan sebuah berita.
Sejak awal kemunculannya, senjata utama Jokowi dan antek-anteknya adalah pencitraan. Masih segar di kepala saya bagaimana dia dengan tiba-tiba muncul dengan Esemka-nya, lantas pemberitaan tentangnya di blow up sedemikian rupa dengan permak disana sini bahwa dia adalah pemimpin yang merakyat dan sangat kompeten. Dan sejak awal pun saya sudah bisa menangkap kejanggalan pemberitaan yang berlebih tentang Jokowi ini. Memang banyak yang tertipu, terkesan, jatuh cinta, hingga kemudian menjadi fans beratnya, lantas rela membelanya mati-matian jika ada satu dua orang yang mencoba membuka kedok busuknya. Orang-orang seperti inilah yang kemudian disebut dengan corong. Ada corong yang berbayar, ini bisa diketahui sejak masa pencalonan Jokowi sebagai presiden, sebuah artikel membongkar kedok puluhan corong yang tugasnya membuat puluhan akun palsu kemudian menyebarkan status-status yang memuja-muja Jokowi. Ini yang ketahuan, yang tak ketahuan? Bisa ratusan atau bahkan ribuan, dan kalikan saja dengan puluhan akun palsu milik mereka yang mereka gunakan untuk membuat status-status pencitraan Jokowi. Tugas mereka juga meng-counter status-status yang melawan Jokowi. Lantas bagaimana dengan corong tak berbayar? Lebih banyak lagi, isinya tentu saja orang-orang yang terlanjur termakan dengan segala pencitraan yang membombardir mereka kapanpun dimanapun selama mereka terhubung dengan internet. Totalitas mereka dalam membela pujaannya tak kalah dengan corong-corong berbayar, hal ini tentu saja karena mata dan hati mereka telah dibutakan oleh kekaguman yang berlebihan kepada sosok idolanya.
Kerja corong-corong ini kemudian menjadi ujung tombak keberhasilan Jokowi menjadi presiden Indonesia periode 2014-2019. Dan dimulailah era pemerintahan Jokowi, tentunya dengan berbagai janji saat kampanye agar dia terpilih. Rakyat pun menjadikan janji-janji ini sebagai parameter keberhasilan pemerintah, dan bagaimanakah kinerja pemerintahan Jokowi? Kenyataannya janji-janji yang dibuat olehnya hanya tinggal janji. Dimulai dari janji swasembada beras, itu tidak menjadi kenyataan hingga sekarang. Malahan pemerintah berkali-kali mengimpor jutaan ton beras di saat rakyat panen raya, bukankah hal itu malah menjadikan beras lokal jatuh harganya? Dan tentu saja berlawanan dengan janji Jokowi untuk swasembada beras. Lalu janji untuk stop impor, nyatanya pemerintahan Jokowi mengimpor berbagai kebutuhan pangan yang sejatinya bisa dipenuhi oleh produsen dalam negeri, mulai dari beras, garam, bahkan cangkul pun diimpor. Kemudian janji tidak akan menaikkan harga BBM, kenyataannya pemerintah sudah lebih dari empat kali menaikkan harga BBM tanpa memberikan info sebelumnya kepada rakyat. Dan sebagaimana kita tahu bahwa dengan naiknya harga BBM akan berimbas kepada naiknya berbagai bahan pokok lainnya, hal ini melatar belakangi perlawanan yang dilakukan ibu-ibu dengan menggunakan tagar #2019GantiPresiden. Janji untuk tidak berhutang pun diingkari dengan tumpukan hutang triliunan rupiah. Dan janji membuka 10 juta lapangan kerja baru ternyata tidak ditepati, pasalnya Jokowi menerapkan model investasi dari China berupa pinjaman uang untuk membangun infrastruktur, namun bahan harus dari China, pekerja pun harus dari China, jadi rakyat Indonesia dapat apa? Belum lagi kenyataan beberapa infrastruktur yang dibangun itu ambruk, tak layakkah jika kami meragukan kualitas infrastruktur yang dibangun era kepemimpinan Jokowi?
Ijinkan saya mengutip sebuah potongan hadits riwayat imam Ahmad. “Sesungguhnya pada hari kiamat setiap pengkhianat akan diberikan padanya bendera pada pantatnya dan akan dibalas sesuai pengkhianatannya, dan tidak ada pengkhianatan yang lebih besar dari pengkhianatan seorang pemimpin umat”. Corong selalu menyangkal dan mengatakan bahwa kebohongan yang dilakukan oleh pujaannya adalah sesuatu yang manusiawi dan tidak masalah. Bagi rakyat yang masih memiliki akal sehat pasti sepakat mengatakan bahwa itu adalah masalah besar. Jika pemimpin yang menguasai hajat hidup masyarakat Indonesia tidak dapat dipegang kata-katanya, lantas apakah dia layak memimpin di periode selanjutnya? Rakyat merindukan sosok pemimpin yang amanah, menepati janjinya, dan pro terhadap rakyatnya, bukannya malah memfasilitasi bangsa asing menjajah rakyatnya. Hal inilah salah satu yang melatar belakangi munculnya tagar #2019GantiPresiden, dan menjadi gerakan massif dari masyarakat yang sadar akan kenyataan bahwa presidennya saat ini sudah tak layak melanjutkan kepemimpinannya di bumi Indonesia.
Satu hal yang menambah keyakinan bahwa Jokowi adalah boneka asing yang ingin menjajah Indonesia, yakni proyek reklamasi yang pelaksanaanya sejatinya ditentang oleh ribuan nelayan dan tidak mendapatkan izin administrasi dari pejabat terkait. Namun pemerintah pusat seakan-akan ngoyo mempertahankan proyek ini apapun kondisinya dan tetap melakukan pembangunan walaupun tidak mengantongi izin. Lantas bangunan-bangunan megah yang telah berdiri itu dijual kepada rakyat asing dan iklannya betebaran di Negara China, bukannya itu menandakan bahwa Negara ini sedang dijual? Salah satu yang berangkulan dengan Jokowi dalam proyek reklamasi ini adalah mantan gubernur Jakarta, Ahok. Lantas Ahok pun tersandung kasus penistaan ayat suci Al Qur’an saat sedang kampanye di Kepulauan Seribu. Masih segar di ingatan ketika rakyat bangkit dalam aksi 212 yang berlanjut pada aksi-aksi selanjutnya dalam rangka membela Al Qur’an yang dinistakan oleh Ahok, gubernur Jakarta pada masa itu. Jutaan massa umat Islam bergabung membela agamanya dan menuntut agar Ahok dipenjarakan. Pemerintah yang terkesan ogah-ogahan dalam menangani kasus ini menjadikan umat Islam semakin militan dan bersatu padu menuntut keadilan harus ditegakkan. Dan setelah proses yang sangat panjang dan upaya jutaan rakyat Indonesia yang bersatu padu, akhirnya Ahok dipenjara. Hal itu membuka mata rezim pemerintahan Jokowi bahwa rakyat yang dipimpin oleh alim ulama memiliki kekuatan tak terbendung yang mampu menumbangkannya dalam sekejap. Dan dimulailah babak baru kesemena-menaan rezim terhadap tokoh-tokoh umat Islam.
Dimulai dengan kriminalisasi Habib Rizieq Shihab, ulama yang menjadi tokoh inti penggerakan massa 212, yang merembet pada kasus pembacokan ahli IT yang berusaha membuktikan bahwa Habib Rizieq tidak bersalah. Pemerintah seolah-olah ketakutan dan mulai gelap mata dengan menangkap tokoh Islam lain yang vokal walaupun sebenarnya yang disampaikan dalam ceramah-ceramahnya juga tidak ada tendensi yang membahayakan. Misalnya ustadz Alfian Tanjung yang berusaha membuka mata masyarakat akan bahaya PKI dan mewaspadainya, beliau ditangkap dan masih ditahan hingga sekarang. Lantas ustadz Zulkifli yang isi ceramahnya adalah tentang hari kiamat yang pasti kedatangannya, beliau pun menjadi korban rezim dan saat ini mendekam dalam penjara. Belum lagi kasus penyiraman air keras yang terjadi pada penjabat senior KPK Novel Baswedan, yang kasusnya tak terungkap hingga sekarang. Dan yang lebih mengerikan adalah puluhan kasus penganiayaan para ulama di berbagai daerah di Indonesia, yang beberapa di antaranya berujung kematian, yang kemudian pelakunya divonis sebagai orang gila sehingga bebas dari segala tuduhan. Astaghfirullah, dari penjabaran ini saja langsung tergambar kekejaman orde lama yang juga berusaha menyingkirkan lawan politik yang dianggap membahayakan kedudukannya dengan cara keji. Ditambah ada indikasi kebangkitan PKI yang mulai menggeliat dengan berani di era Jokowi ini. Lengkap sudah gambaran rezim yang diperankan oleh presiden kita saat ini. Lantas apakah salah jika rakyat bergerak melawan dan bertekad bersatu dengan mengangkat isu bertagar #2019GantiPresiden.
Di titik ini para corong masih juga menutup mata akan segala kebobrokan junjungannya dan terus membela dengan berbagai argument yang dipaksakan. Walaupun sudah tampak dengan sangat jelas segala borok penguasa dan tak dapat dibantah lagi, mereka masih saja mendukung secara membabi buta. Mereka tidak berusaha mencari yang terbaik untuk negeri ini, namun hanya ingin memberikan jabatan untuk idolanya. Dan inilah masalah utamanya, rata-rata para corong ini tidak mau berpikir kritis, tidak betah diajak berdiskusi, pikiran mereka tak terbuka terhadap kebenaran. Menjadi tugas seluruh elemen masyarakat yang telah sadar untuk menyadarkan mereka dan mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Semoga impian rakyat Indonesia untuk #2019GantiPresiden dapat terwujud dan membawa angin segar demi masa depan Indonesia dengan pemimpin baru yang jujur, amanah, kompeten, dan adil.
Oleh:
Leska Tariyani
Seorang Ibu Rumah Tangga yang rindu akan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik.
FB: Leska Tariyani
IG: smart_scrapbook

Kamis, 26 April 2018

Perjalanan Hidupku (part 8)



Yanti teman sebangkuku, dia adalah anak yang menyenangkan, sejak pertama kali berkenalan aku terkesan padanya. Untuk anak seumuran kami, dia tergolong bijak dan sangat dewasa. Dia mampu berbaur ke semua kawan-kawan kami sekelas, pun ketika mulai ada geng-geng di kelas kami. Ya, pada akhirnya kelas kami yang sangat ramai akan terkotak-kotak menjadi kelompok-kelompok geng. Ada geng anak-anak ramai yang diisi dengan anak-anak gaul dan suka ngrumpi, ada juga geng anak-anak pintar, yang cenderung pendiam tapi nyaman dengan lingkarannya. Bagaimana denganku? Aku adalah anak pendiam yang tidak termasuk dalam geng manapun. Aku lebih nyaman berdua dengan Yanti, dia suka bercerita, aku suka mendengarkan, maka kloplah kami. Meskipun Yanti tidak melulu bersamaku, dia yang pandai berbaur juga sering bercengkerama dengan teman-teman lainnya. Entah kenapa sejak dulu masalah utamaku adalah susah mencari tema ngobrol dengan orang lain. Jika aku merasa tidak ada tema yang bisa dibicarakan, maka aku memilih diam, dan hal itu membuat orang-orang kurang nyaman bersamaku. Tapi berbeda dengan Yanti, ada saja tema yang kami bicarakan, bahkan drama Taiwan Meteor Garden yang sedang hits di masaku bisa menjadi bahan obrolan seru, kamipun tertawa-tawa berdua.

Salah satu kelebihan Yanti yang sangat patut untuk diteladani adalah kerajinannya dalam belajar. Ya, kawan sebangkuku ini sangat rajin dan pantang menyerah untuk selalu berprestasi. Karena usahanyalah dia bisa meraih rangking satu hampir tiap semester, sedangkan aku mengekor di rangking tiga atau malah lebih buruk dari itu. Prestasi terbaikku selama SMP adalah rangking dua di kelas, itupun hanya sekali. Pernah aku mendapat rangking terburuk sepanjang sejarah hidupku, yakni rangking tujuh, akupun menangis sejadi-jadinya di kelas ketika teman-teman sudah pulang, puas menangis baru aku pulang. Lebay ya? Haha.. Begitulah anak muda yang masih belia, masih memiliki idealisme dalam hidupnya. Aku suka dengan diriku yang berambisi untuk berprestasi, setidaknya itu modal untuk sukses versiku. Orang tuakulah yang menjadi bahan bakar semangatku, yang kedua adalah Yanti yang selalu mengajakku untuk berlomba-lomba agar lebih baik. Pernah suatu pagi aku pergi ke rumahnya agar bisa berangkat bersama, kebetulan itu adalah saat ujian sehingga masuknya agak siang. Saat aku tiba di sana ternyata Yanti masih belajar, aku yang sudah merasa cukup dengan sekali mengulang materi yang diujikan jadi malu dengannya yang tak berhenti belajar hingga seluruh materi menempel di kepalanya. Pernah juga ketika diberi tugas menghapal oleh guru agama, dua buah ayat yang satunya pendek, dan yang satunya panjang. Aku yang merasa puas dengan menghapal ayat yang pendek, oleh Yanti disemangat dan diajak untuk terus berusaha menghapal ayat yang panjang dengan terus diulang-ulang, dan akhirnya kami pun hapal. Aku terpesona saat itu, ternyata jika kita mau sedikit memaksa diri untuk berusaha, sesungguhnya kita mampu meraih sesuatu yang sebelumnya kita anggap mustahil dapat kita lakukan.

Satu lagi hal yang mengagumkan dari sahabatku ini adalah kemampuannya bernyanyi. Suaranya indah bagai seorang diva, dia berbakat ditambah lagi orang tuanya memfasilitasinya les vokal sehingga suara emasnya makin terasah. Ketika ada acara di sekolah, Yanti sering didapuk untuk mengisi salah satu sesinya. Suaranya yang begitu merdu bergema di seantero sekolah membuat siapapun akan terlena dengan keindahan suaranya. Aku sering diajaknya bernyanyi bersama, awalnya tentu saja aku menolak karena aku sadar akan kemampuanku dalam olah vokal. Namun bukan Yanti namanya kalo menyerah begitu saja, dia akan merayuku lantas mengajariku untuk membuat suara satu dan dia yang membuat back sound dengan suara tiga yang merdu, dengan cara itu suara cemprengku tertutupi dengan suara merdunya, hihi. Salah satu lagu favorit kami adalah lagu Sahabat Sejati oleh Sheila On Seven :

Sahabat Sejatiku
Hilangkah dari ingatanmu
Di waktu kita saling berbagi
Dengan kotak sejuta mimpi
Aku datang menghampirimu
Kuperlihatkan semua hartaku
Kita slalu berpendapat
Kita ini yang terhebat
Kesombongan di masa muda yang silam
Aku raja kaupun raja
Aku hitam kau pun hitam
Arti teman lebih dari sekedar materi
Tu..wa..ga..pat
Reff:
Pegang pundakku jangn pernah lepaskan
Bila ku mulai lelah
Lelah dan tak bersinar
Pegang sayapku jangan pernah lepaskan
Bila ku mulai terbang
Terbang meninggalkanmu
Wo o o..woo oo oo oo

Pada suatu hari saat pelajaran seni rupa, “Cha, gambarmu bagus sekali, aku sering memperhatikan saat kau membuat gambar ketika pelajaran seni rupa. Mungkin kau punya bakat melukis, kenapa tak kau kembangkan bakatmu?” kata Yanti padaku. “Ohya? Mungkin bakat ini menurun dari bapakku, beliau bisa membuat lukisan yang indah sekali. Tapi untuk mengembangkannya..” aku terdiam sejenak. “Kenapa?” tanya Yanti penasaran. “Keluargaku sangat sederhana, bisa sekolah di sekolah favorit ini saja aku sudah sangat bersyukur. Aku takut jika aku meminta macam-macam seperti les menggambar justru akan membebani pikiran orang tuaku,” ujarku dengan nada sedih. “Hmm, aku paham. Tapi untuk mengembangkan bakat kita tidak harus dengan les kok, bisa juga dengan otodidak,” ujar Yanti optimis. Akupun tersenyum, walaupun dalam hati bertanya-tanya, jika bukan dengan les, lantas bagaimana? Pada akhirnya aku hanya bisa menggambar untuk mengerjakan tugas, menikmati lukisan-lukisan yang dipajang saat ada pameran, dan sesekali membuat lukisan sendiri jika sedang memiliki waktu luang. Butuh fokus untuk menyemai sebuah bakat agar mekar berseri, dan aku kekurangan sarana pendukung serta fasilitas untuk mengembangkan bakatku. Tugas sekolah, belajar untuk ujian, dan serangkaian kegiatan organisasi telah menguras perhatianku, dan di sisa waktuku kugunakan untuk refreshing atau istirahat. Keinginan untuk bisa mengembangkan bakat pun lama-lama menguap begitu saja.


#KelasFiksi
#ODOPBatch5

Sabtu, 21 April 2018

Perjalanan Hidupku (part 7)


Dini hari itu aku terbangun sebelum adzan subuh berkumandang, segera kuambil handuk dan bergegas mandi meskipun hawanya masih sangat dingin. Sambil menggigil kubersiap mengenakan seragam, begitu terdengar adzan aku segera menunaikan shalat. Agar tak lemas nanti di sekolah kusempatkan sarapan beberapa suap nasi lauk telur. Begitu semua siap, aku segera berpamitan kepada nenek dan berangkat dengan jalan kaki menuju jalan raya sekitar 300 meter dari rumah nenekku. Saat itu di luar masih gelap dan jalan sangat sepi, aku berlari-lari kecil ketika melewati jembatan tanpa penerangan. Jalanku sudah mirip orang lomba jalan cepat, bagaimanapun juga ada rasa takut menyesap dalam hati. Hingga akhirnya sampai juga aku di pinggir jalan raya, di depan gang ada sebuah masjid besar dengan penerangan yang cukup sehingga aku memilih berdiri di seberangnya untuk mengusir rasa was-was. Tak perlu menunggu lama hingga sebuah angkutan umum lewat di depanku, sebenarnya angkutan umum itu sudah banyak terisi penumpang yang akan berangkat bekerja di pabrik Gudang Garam, namun pak kernet masih saja memaksakan penumpang untuk berhimpitan agar bisa mengangkut lebih banyak. Aku pasrah saja dihimpit oleh penumpang lain yang rata-rata adalah ibu-ibu. Walaupun harus berhimpitan, aku bersyukur laju kendaraan umum itu cukup cepat sehingga aku tak perlu khawatir terlambat.

Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam, aku segera turun setelah membayar tarif yang terbilang murah untuk anak sekolah sepertiku. Kulihat halaman sekolahku lengang, apa aku kepagian? Ah aku hanya perlu masuk untuk memastikan, segera saja kulangkahkan kaki melewati halaman sekolah menuju kelas 1 E yang letaknya di belakang. Ternyata sudah banyak temanku yang datang, dan mereka disuruh berbaris di depan kelas. “Hai, kamu jangan santai-santai, ayo cepat berbaris!” tiba-tiba seorang senior berteriak kepadaku, akupun segera berlari menuju barisan. Wajah teman-teman sekelasku yang belum semua kukenal, terlihat ketakutan, begitupun aku mulai merasa tak nyaman. Aku melihat sekeliling, para siswa baru berbaris di depan kelasnya masing-masing, belum banyak yang datang karena memang ini belum menunjukkan pukul enam sebagaimana instruksi yang diberikan senior di hari sebelumnya. Satu per satu kawan-kawanku berdatangan disambut teriakan agar segera berbaris dan menggunakan perlengkapan yang sudah diinstruksikan. Begitu pukul enam, para senior mulai semakin garang, teriakan mereka menggelegar bagaikan singa lapar. Kawan-kawanku yang terlambat diminta membuat barisan baru dan disana mereka diomeli dengan berbagai kata-kata kasar. 

Melihat pemandangan ini jantungku berdetak tak karuan, kepala berdenyut-denyut demi mendengar teriakan yang saling bersautan. Para senior mulai mencari-cari kesalahan, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak ada yang luput dari pandangan mereka.
“Lihat baju yang kau kenakan! Rok di atas lutut begini, mau jadi apa kau, hah?!” semprot seorang senior perempuan kepada salah satu teman sekelasku. Yang diteriaki tentu saja mengkerut takut, ada beberapa yang masih bisa menjawab begitu mendapatkan bentakan di sebelah telinganya, ada juga yang mendadak bisu. Jika mulut tertutup rapat maka akan disusul bentakan selanjutnya, “kamu bisu ya? Kenapa tak menjawab pertanyaanku?!” dan jika yang ditanya masih diam saja, maka runtutan bentakan selanjutnya akan berhamburan menggedor-gedor gendang telinga. Berbagai macam subjek yang mereka jadikan bahan omelan, ada yang karena rambut gondrong, ada karena lupa membuat keplek, ada yang karena sepatu, dasi, dan banyak hal lagi. Dalam hati aku berpikir, untuk apa semua ini? Jika untuk membuat disiplin apa harus seperti ini? Mental apa yang akan terbangun dengan bentakan dan cacian macam ini? Apa tak ada cara lain?

“Hai, kamu melamun ya?!” tiba-tiba sebuah bentakan diarahkan kepadaku, membuyarkan pikiranku. Duh, salah apa aku? “Lihat saya! kamu sedang mikirin apa, hah?!” Tanya senior laki-laki yang sudah berdiri tepat di depanku. “Tidak, tidak ada, Kak,” jawabku tergagap. “Temanmu dibentak-bentak kau diam saja. Kamu nggak ingin membela mereka?” sebuah pertanyaan menggelitik diajukan kepadaku. Haduh, aku harus bagaimana? Apa aku harus jadi pahlawan kesiangan yang menyelamatkan satu per satu temanku? Aish siapa aku? “Ingin, Kak!” duh, aku ngomong apa? Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Dan selanjutnya akupun menuju salah satu kawan yang sedang diomeli habis-habisan oleh seorang senior. Kucoba beradu argumentasi demi menyelamatkan kawanku, dan kulihat ada beberapa kawanku yang bernasib sama. Dan kejadian absurd macam ini berlanjut hingga kami semua dikumpulkan kembali untuk berbaris di depan kelas masing-masing. Aku menghela nafas lega, setelah berbaris kamipun diminta masuk ke kelas, menduduki bangku masing-masing.

Kuedarkan pandangan ke sekeliling kelas yang akan menjadi tempat belajarku selama setahun ke depan. Sebagaimana kelas pada umumnya, ada bangku panjang yang berjajar di sertai dua kursi di belakang setiap bangku. Karena aku termasuk bertubuh tinggi maka aku diletakkan di bangku belakang agar tidak menutupi kawan-kawanku jika kududuk di depan. Seorang kawan perempuan duduk di sampingku, kami berkenalan, namanya Yanti. Kami mengobrol singkat sebelum seorang senior memberikan instruksi di depan kelas, memperkenalkan lingkungan sekolah kami. Aku menyimak dengan antusias, bagaimanapun juga akan kuhabiskan tiga tahun masa hidupku belajar di sekolah ini. Ah, aku tak sabar lagi!

#KelasFiksi
#ODOPBatch5

Selasa, 17 April 2018

Balasan Surat Cintaku



Saat itu dia baru pulang kantor, setelah selesai bersih diri saya iseng bertanya, "sudah baca surat cinta umi di status fb?” aku merujuk pada tulisan yang berjudul 'Being in love with you'. Suami menjawab, “sudah,” lalu saya bilang, “bales donk.”
Suamipun berkata “Tak jawab gini aja ya, terima kasih sayang”
“Gak mauu, awas ya kalo gitu doang jawabnya” tukas saya. “Pokoknya harus bikin surat cinta panjang kayak suratnya umi!” tambah saya sambil menggigit tangannya karena gemas, disambut tawa gelinya dan wajah meringis karena sakit.

Hari demi hari surat cinta tak kunjung berbalas, saya pun menyampaikan kegalauan di grup matrikulasi IIP yang memberikan tugas menulis surat cinta pada suami dan meminta balasannya. Setelah sharing dan melihat berbagai macam tanggapan para suami atas surat cinta istrinya, maka saya menyadari bahwa memang benar wanita dari venus dan pria dari mars. Tentu saja ini hanya perumpamaan, karena pada umumnya suami sangat hemat dalam berkata-kata, pun dalam bahasa tulisan. Hanya seribu satu yang bisa mengungkapkan keinginan dan perasaan dengan rangkaian kata atau tulisan yang panjang. Dan suami saya termasuk dalam seribu laki-laki yang miskin kata-kata.

Baiklah, saya mulai bisa menerima kenyataan hingga saya teringat satu hal.
Sehari setelah saya buat surat cinta untuk suami saya, tiba-tiba dia berkat, “Umi, kapan hari kan abi menawarkan mau ikut abi seminar di Jakarta atau Bandung. Insyaallah kita jadi ke Bandung.” “Waa...yeaay,” ujar saya girang bukan kepalang.
“Abi tau umi suka jalan-jalan, kalau ke Jakarta paling ya gitu-gitu saja, makanya abi pilih ke Bandung,” tambahnya.
Ah so sweet... Suami saya memang tidak pandai berkata-kata, tapi dia selalu sukses menunjukkan cinta dengan perbuatan yang membuat saya kembali jatuh cinta padanya lagi dan lagi... Alhamdulillah :)

#kelasFiksi
#ODOPbatch5

Senin, 16 April 2018

Meraup Hikmah dari Kisah Ashabul Kahfi


Dalam kisah ashabul kahfi, diceritakan tentang beberapa pemuda yang berusaha mendakwahi penguasa dan rakyat di sekitarnya yang sudah terwarnai dengan maksiat dan dosa. Penolakan demi penolakan mereka alami hingga suatu hari mereka bersepakat untuk bertemu di sebuah gua untuk melakukan syuro, dan disanalah mereka ditidurkan oleh Allah selama ratusan tahun. Saat mereka terbangun mereka mendapati rakyat yg dulunya tenggelam dalam dosa kini telah diganti Allah dengan rakyat yang  berperadaban Islami. Para pemuda inipun terpesona akan kuasa Allah yang menidurkan mereka lantas membangunkan dalam kurun waktu ratusan tahun.

Hikmah dalam kisah ini adalah, dalam hidup ini ikhtiar kita sebenarnya hanya berpengaruh 1% terhadap hasil, sisanya yg 99% adalah kehendak Allah. Maka dimanakah posisi kita saat ini? Apakah kita sudah mengambil peran kebaikan walau hanya satu ayat? Sudahkah kita menghamba kepada Allah sehingga kita diselamatkan dari fitnah yg meliputi akhir zaman ini?

Sungguh sesuai janji Allah, sangat mudah bagiNya memenangkan agama Islam. Hanya dengan bersabda "Kun", maka luluh lantaklah para penguasa tiran, para penista Islam, para pembangkang, dan orang-orang munafik yang menutup matanya dari kebenaran. Yang menjadi tugas kita hanyalah berikhtiar semampu kita untuk menyampaikan kebenaran dan menegaskan dimanakah keberpihakan kita. Pada tentara Allah (hisbullah) atau tentara syaiton (hisbussyaiton). Semoga kita senantiasa berada dalam iman dan Islam hingga hayat menjemput. Apakah Islam akan jaya saat kita masih hidup atau jauh setelah kita mati itu bukan lagi menjadi tugas kita. Setidaknya kita sudah berusaha meletakkan satu pondasi batu kemenangan Islam, itu sudah cukup. Semoga Allah meridhoi kita dan memasukkan kita dalam jannahNya. Aamiin..

#KelasFiksi
#ODOPBatch5

Perjalanan Hidupku (part 6)


“Tugas Deskripsi dengan kata kopi, rumah, dan kenangan”


Di sebuah lapangan sekolah yang luas, wajah-wajah optimis penuh harapan berkumpul, berbaris dengan teratur. Di depan podium kepala sekolah memberikan sambutan dan petuah kepada para siswa baru yang diterima di sekolah yang beliau pimpin. Baris demi baris siswa baru dikumpulkan sesuai dengan kelasnya. Aku berada di barisan kelas 1 E, karena tubuh jangkungku, aku berdiri di bagian paling belakang. Entah mengapa panas yang terik tak terasa, mungkin karena kegelisahan di hari pertama sekolah menjadikan berdiri selama hampir setengah jam di bawah panasnya mentari justru memacu semangatku. Dengan hati berbunga-bunga kusimak penuturan panjang lebar oleh kepala sekolah. Aku tak sabar memulai hari demi hari sebagai seorang murid SMP Negeri 1 Kediri. Selama dua pekan ke depan kami akan menjalani Masa Oriestasi Siswa (MOS). Kegiatan MOS kami akan dipandu oleh kakak-kakak OSIS yang akan memperkenalkan lingkungan sekolah serta memberikan arahan tentang organisasi-organisasi yang ada di SMP 1. Keesokan harinya kami diminta datang pukul 06.00 dan tidak boleh terlambat, jika terlambat kami akan kena sanksi. Aku sempat bingung bagaimana caranya agar bisa sampai sepagi itu di sekolah. Saat pulang sekolah aku dijemput ibu dan diajak ke kantornya sambil menunggu waktu pulang ibu sekitar jam empat sore. Lantas ibu mengajakku makan di kantin terlebih dahulu, perutku yang sudah berbunyi sedari tadi seolah bersorak karena akan segera terisi.

“Bu, aku besok harus sampai di sekolah pukul enam pagi,” ujarku sambil memakan sepiring gado-gado yang terasa begitu nikmat.
“Ohya? Pagi sekali. Kalau berangkat dari rumah jelas tidak memungkinkan akan sampai sepagi itu. Apalagi ibu harus menyiapkan kedua adikmu terlebih dahulu,” jawab ibu sambil menyeruput secangkir kopi kesukaannya.
“Jadi bagaimana donk?” tanyaku dengan mulut penuh.
“Kalau ngomong makanannya ditelan dulu! Hmm, gini aja, kamu malam ini tidur di rumah nenek. Lalu besok pagi kamu berangkat setelah shalat shubuh naik kendaraan umum. Kan rumah nenek tak jauh dari jalan yang dilewati kendaraan umum,” usul ibu.

Akupun membayangkan harus berjalan menuju jalan raya di saat hari masih gelap, karena rumah nenek masih berjarak sekitar 300 meter menuju jalan raya. Setelah naik kendaraan umum pun masih memerlukan waktu sekitar satu jam menuju sekolahku. Tapi memang itu adalah solusi terbaik, mengingat rumahku berada di pelosok desa yang tak terakses kendaraan umum.
“Baiklah bu, kurasa itu solusi paling memungkinkan,” ujarku kemudian kepada ibu.

Sore sekitar jam empat kami menjemput adikku yang menunggu di rumah kos keluarga kami dulu. Kami sudah menganggap ibu kos sebagai keluarga sendiri, aku memanggil beliau mbah Katang. Mendatangi rumah yang tak jauh dari tempat ibuku bekerja ini membangkitkan kenangan masa kecilku yang kuhabiskan di salah satu kamar rumah ini. Bagus, adikku berangkat bersama denganku dan ibu dari rumah kami di desa, lantas sepulang sekolah menuju rumah mbah Katang sambil menunggu ibu pulang kerja. Sesampainya di sana, mbah menyambut kami lantas mengobrol dengan ibu. Aku ikut menonton Bagus yang sedang asyik bermain game play station bersama cucu mbah. Tak berapa lama kemudian kamipun berpamitan lantas berkendara pulang. Sesampainya di rumah menjelang maghrib kami bersih diri, shalat lalu makan malam. Akupun mempersiapkan seragam dan barang-barang yang perlu kubawa besok ke sekolah. Malam itu juga ibu mengantarku ke rumah nenek yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumahku.

“Nenek, aku datang”, ujarku disambut nenekku senang, aku adalah cucu pertama nenek sehingga beliau begitu menyayangiku.
“Wah cucu nenek datang, malam ini bobok di sini ya?” tanya beliau.
“Iya Nek, soale besok aku harus berangkat subuh,” ujarku menjelaskan.
“Wah, berangkat subuh? Kenapa harus sepagi itu?” tanya nenek keheranan.
“Biasa Bu, begitulah pengkaderan awal masuk sekolah,” jelas ibuku singkat.
Kamipun bercengkerama sejenak, lantas ibuku berpamitan pulang karena hari sudah malam. Perjalanan dari rumah nenek ke rumahku banyak melewati sawah-sawah yang gelap jika malam, ibu takut jika kemalaman. Aku menatap ibu yang memacu motornya pulang, kubayangkan betapa lelahnya harus memacu kendaraan pulang pergi dari desa ke kota setiap hari, belum lagi jika kurepotkan dengan urusan sekolah sebagaimana hari ini. Aku hanya bisa mendesah dalam hati, semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan bagi ibu. Aku tak mampu membayangkan bagaimana hari-hariku jika tak ada beliau. Nenek mengajakku masuk ke dalam rumah untuk istirahat, bagaimanapun besok aku harus bangun sepagi mungkin agar tak terlambat sampai di sekolah.


#TantanganDeskripsiDengan3Kata
#KelasFiksi
#ODOPBatch5

Sabtu, 14 April 2018

Menjadi Tua dan Ditinggalkan by Me



Untuk menyelesaikan tantangan RCO tahap 2 saya diwajibkan membaca buku fiksi dengan tebal minimal 200 halaman. Saat saya mencari di koleksi buku milik suami di rak depan, ternyata kebanyakan adalah non fiksi. Ada beberapa fiksi namun yang tebal-tebal adalah buku yang sudah pernah saya baca. Tinggal novel-novel tipis yang halamannya kurang dari 200, tidak sesuai dengan prasyarat tantangan RCO. Namun di antara tumpukan itu ternyata ada satu buku, yang ternyata adalah milik almarhum budhe suami. Novel berjudul 'Menjadi Tua dan Terpinggirkan' ini memiliki sampul yang gelap dan terkesan mistis, jadi jikalau ada novel lain yang memenuhi syarat mungkin saya tak akan meliriknya. Namun novel ini satu-satunya yang tersisa. Akhirnya saya memutuskan untuk mulai membacanya. Dan setelah huruf demi huruf, berlanjut dengan untaian kata dan kalimat saya baca satu per satu, saya mulai menikmati kisah yang diangkat dalam novel ini.

Tokoh utama novel ini adalah tuan Laman, seorang kaya raya yang memasuki masa tuanya. Tuan Laman dengan pemikirannya yang sangat mendalam terbiasa menulis kenangannya dalam sebuah diary. Gaya cerita yang diangkat dalam novel ini sarat akan pemikiran dalam ilmu psikologi sehingga menambah khazanah pengetahuan pembaca. Ditambah dengan puisi-puisi melankolis yang menambah sisi dramatis cerita mampu menyihir pembaca. Saya larut dalam cerita sehingga sempat menangis membayangkan bagaimana jika sosok tuan Laman masuk dalam kehidupan saya.

Dikisahkan dalam novel ini sejak serangan stroke menimpa tuan Laman di awal masa pensiunnya, segala kehidupannya yang sempurna berbalik 180 derajat. Anak-anaknya tidak cukup sabar merawat ayahnya yang tua dan merepotkan dikarenakan sakitnya. Akhirnya anak-anak tuan Laman memutuskan untuk menitipkan tuan Laman di dalam panti jompo. Merasa terbuang, itulah pikiran utama dari tokoh tuan Laman. Perasaan ingin segera mati saja dan penyesalan-penyesalan yang dikemas dalam flashback kisahnya sejak masih muda hingga berumah tangga dan mulai mendidik anak-anaknya. Tuan Laman mengkisahkan cerita hidupnya kepada seorang perawat putus asa yang memiliki fisik buruk rupa dan hampir saja bunuh diri karena tak diterima bekerja di mana saja. Tuan Laman melihat dan sempat berbincang dengannya saat akan melamar sebagai perawat di panti jompo Old is Never Die tempat tinggalnya.

Dengan pengaruhnya tuan Laman membuat perawat yang bernama Safira itu menjadi perawat pribadinya. Safira yang sejatinya hendak melompat dari balkon rumah sakit untuk mengakhiri hidupnya, mendapat telpon bahwa diterima bekerja di panti jompo Old is Never Die sesaat sebelum lompat bunuh diri. Dan diapun menjadi kawan serta pendengar setia atas kisah tuan Laman yang ternyata memiliki kisah memukau sejak masa kecilnya. Inti dari kisah hidupnya adalah bahwa ada kesalah pahaman yang terjadi antara tuan Laman dan anak pertamanya, Malaya. Malaya yang jatuh cinta terhadap seorang pemuda yang dikenalnya dari internet. Malaya dibutakan oleh cinta ketika sang pemuda mengirimkan puisi-puisi romantis kepadanya. Malaya terhipnotis dan mulai membangkang terhadap orang tuanya yang mendidiknya dengan keras. Dia yang selama ini terkekang dengan berbagai peraturan yang dibuat oleh ibunya, ingin agar orang tuanya tidak turut campur dalam kehidupan cintanya. Dan kenyataan berkata lain ketika dia bertemu sosok yang dipujanya, ternyata dia adalah seorang pria kerdil. Namun karena rasa cinta yang buta, Malaya iba dan mengenalkan si pria kepada orang tuanya. Sontak orang tua yang ingin hal terbaik kepada anaknya itu menolak dan mengusir si pria kerdil. Dan tak lama kemudian kekasih Malaya ini meninggal karena kanker yang diidapnya. Malaya sedih dan menyalahkan orang tuanya kenapa tak mampu memahami dirinya, Malaya dendam dan ingin memberikan perhitungan kepada orang tuanya suatu hari nanti.

Istri tuan Laman meninggal delapan tahun sebelum masa pensiunnya tiba. Dan saat dia sedang berbaring di rumah sakit, anak-anaknya berkumpul lantas berkata bahwa mereka lelah mengurus ayahnya yang lumpuh. Namun mereka juga ingin agar ayahnya tetap hidup sehingga bisa menandatangani surat warisan untuk mereka. Tuan Laman diobati hingga sembuh, namun kemudian ditelantarkan di panti jompo. Belakangan diketahui bahwa otak dari itu semua adalah Malaya yang menyimpan dendam kepada orang tuanya. Melalui Safira tuan Laman memintanya untuk menemui Malaya dan menyampaikan pesannya. Namun Malaya tetap bersikeras tidak mau menemui ayahnya. Safira pun kembali ke panti jompo tempatnya bekerja, menemui tuan Laman yang hampir saja bunuh diri. Ketika Safira datang, dia berkata pada tuan Laman, dialah yang akan menemaninya hingga malaikat maut menjemputnya suatu hari nanti. Tuan Laman yang sejatinya ingin menyerah pada hidup pun menangis tertunduk dan mulai menjalani hari-harinya di panti jompo tanpa beban. Memang di akhir cerita tuan Laman terkena penurunan daya ingat yang membuatnya lupa bahkan kepada dirinya sendiri. Namun setidaknya dia memiliki orang yang bersedia merawatnya dengan tulus, yakni Safira perawat buruk rupa yang telah mengetahui semua masa lalunya dan berjanji akan menjaganya hingga maut menjemputnya.

Di RCO saya diminta memilih salah satu tokoh dan bagaimana apabila tokoh itu ada dalam kehidupan saya. Maka saya akan menarik tuan Laman ke dalam kehidupan saya. Saya juga seorang anak sulung yang dididik cukup keras oleh orang tua saya. Bedanya orang tua saya memberi penekanan mengenai hubungan dengan lawan jenis, saya tidak diperbolehkan pacaran dan belakangan saat saya semakin memahami Islam, saya yakin bahwa pacaran memang tidak diperkenankan dalam agama saya. Alhamdulillah saya tak pernah melawan kepada orang tua hanya karena cinta buta yang sejatinya belum tentu akan menjadi jodoh saya kelak. Jika bapak saya memiliki usia panjang seperti tuan Laman, saya akan merawatnya sepenuh hati. Memang bapak juga keras terhadap saya sebagaimana cara mendidik tuan Laman dan istrinya kepada anaknya. Walaupun ada memori buruk saat bapak pernah sekali menampar saya karena kebandelan saya tak mau mematikan televisi demi menonton drama korea kegemaran saya. Satu memori itu telah tertutup dengan ratusan atau bahkan ribuan jasa bapak dalam hidup saya yang saya ukir dalam sanubari saya. Saya mencintai bapak, saya sangat menyayanginya. Dialah cinta pertama saya, cinta anak kepada orang tuanya. Jika bapak diberi umur panjang, meskipun dia sakit parah saya akan tetap merawatnya dengan sepenuh hati. Saya yang seorang ibu rumah tangga, akan memiliki banyak waktu merawat bapak walaupun diselingi merawat anak-anak dan mengurus rumah tangga. Jika tuan Laman adalah bapak saya, saya tak akan memiliki pikiran untuk meninggalkannya di panti jompo. Saya akan merawatnya sendiri dengan tangan saya, dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang anak yang tidak ada seujung kuku dari segala cinta dan pengorbanan orang tua. "Segala yang bapak lakukan, sejatinya hanyalah demi anak-anak bapak," kalimat cinta yang sering dinyatakan bapak kepada kami anak-anaknya, begitu kuat terpatri dalam memori saya. Saya mencintaimu bapak, saya merindukanmu. Allahummafighrlahu warkhamhu wa aafihi wa'fuanhu. Semoga Allah beri tempat terbaik di alam kuburmu bapak, semoga Allah beri nikmat kubur kepadamu, dan semoga kelak Allah pertemukan kita di jannahNya, aamiin.

#Tantangan2
#RCO'3
#ODOP